Religiositas Humor Si Kabayan

Rabu, 06 Juni 2012 - 20:01:32 WIB
- Dibaca: 1941 kali


HUMOR itu tidak mudah. Lebih tidak mudah lagi adalah humor yang dapat menyuntikkan kasadaran baru, merasukkan keinsafan untuk melakukan perubahan ke arah hidup yang lebih baik.

Humor bukan hanya membutuhkan kecerdasan, namun juga mengandaikan dimilikinya sensitivitas dalam membaca realitas, menyimak dinamika sosio-kultural yang berkembang dengan seksama, cermat, dan serius.

Yang paling musykil tentu saja adalah humor ketika dikaitkan dengan dimensi penghayatan keberagamaan seseorang, kepercayaan sebuah masyarakat atau bertautan dengan iman suatu umat. Apabila tidak memiliki cukup kecerdasan, alih-alih akan menuai kesadaran malah boleh jadi akan menimbulkan keresahan dan tidak menutup kemungkinan bagi kalangan yang tingkat beragamanya overdoses akan dianggap sudah cukup untuk diajukan ke pengadilan dengan pasal penodaan agama.

Saya melihat ada banyak "tokoh" yang telah berhasil memparodikan "agama", atau lebih tepat lagi memparodikan umat beragama yang selalu bersikap ambigu antara apa yang diimaninya dengan polah keseharian. Sebut saja yang paling popular adalah Nasruddin Hoja.

Ada banyak negara yang mengklaim sebagai ahli waris Hoja seperti Iran, Turki, Arab, Uzbekistan, Azerbaijan dan Kazakhistan. Ejaannya juga biasanya disesuaikan dengan asal-usul klaimnya itu semisal Hodja, Hodscha, Hoca, Chotza, Khoja atau Khodja. Begitu juga nama awalannya Nasreddin, Nasrettin, Nasrudin, Nasruddin, Nasr-id-deen, Nasr-eddin, Nasirud-din, Nasr-ud-Din, atau Nasr-Ed-Dine. Demikian jua dengan sebutan lainnya Mulla Molla, "Mushfiqi" atawa "Syaikh Juha".

Humor-humor religiusnya dapat ditelusuri dalam kitab yang ditulis al-Maqrizi, al-Qalqasyandi, an-Nuwairi, al-Qazwini, ad-Dumairi, Abu al-Faraj al-Isfahani, al-Jahiz, al-Ashma'i, Abdullah ibn al-Muqaffa, al-Ashri, dan Ibn Abdu Rabbahi.

Di antara argumen yang sering dijadikan haluan teologisnya adalah kisah Nabi ihwal nenek-nenek yang dianggap tidak akan pernah masuk surga padahal si nenek tersebut terkenal saleh dan rajin beribadah. Tentu saja keterangan ini telah membuatnya menangis. Nabi dengan tenang menjawab, "Betul, Nek, di surga itu tidak ada nenek-nenek. Semua akan muda kembali, termasuk nenek."

Konteks kesundaan

Sunda adalah etnik yang sangat erat dengan tradisi humor. Di mana orang sunda berkumpul (ngariung) di sana akan terjadi komunikasi yang cair. Komunikasi yang penuh dengan humor, canda, dan tawa. Mungkin juga secara geneologis-historik bertalian dengan tradisi silam sebagai masyarakat peladang (huma) yang selalu berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya sehingga diandaikan kecermatan untuk berhumor agar cepat beradaptasi dengan daerah baru.

Dalam konteks kesundaan, tokoh yang dianggap paling pintar humor itu adalah si Kabayan. Si Kabayan sebagai bagian dari kekayaan batin kosmologi Sunda yang dengan gemilang telah berhasil memparodikan pengalaman keberagamaan dengan cemerlang.

Konon, si Kabayan berasal dari bahasa arab ka bayan. Ka artinya seumpama. Bayan itu penjelasan. Menjelaskan dengan menggunakan perumpamaan (metafora/ silib) yang hidup dalam alam pikiran manusia Sunda. Supaya penjelasan itu tidak dianggap sebagai menggurui dan indoktrinasi, jadi dikemaslah dalam bentuk humor.

Dengan humor, yang remang-remang menjadi terang, yang kabur menjadi lebih jelas, yang jauh tampak dekat, yang absurd lebih kelihatan arah dan maksudnya. Kejelasan (bayan) yang ditautkan tidak kepada norma dan teks yang dianggap sakral seperti agama dan mantera tapi justru kepada tindakan sejarah pengalaman keseharian. Kejelasan yang dinisbatkan kepada perilaku kita yang justru acapkali memperlihatkan lajuning lampah yang berbanding terbalik dengan kaidah yang seharusnya.

Yang menjadi haluan "kebenaran" humornya adalah korespondensi objektif bukan kepada yang lian, tapi kepada kita sendiri. Semakin sering dijadikan bahan humor, maka makna interaksi simboliknya dalam perspektif orang Sunda semakin orang itu disayang.

Seperti nampak dalam etika tritangtu silih asah, asih dan asuh yang kemudian secara sosiologis diturunkan dalam sosok resi, rama dan ratu. Resi, rama, dan ratu satu sama lain memiliki fungsi yang berbeda namun diikat dalam atmosfer asah, asih dan asuh. Salah satu yang bisa menjembatani peran dan fungsi itu adalah melalu media humor sehingga ketegangan akan cair dan yang tersisa adalah harmoni.

Si Kabayan digambarkan sebagai orang bodoh sekaligus pintar. Orang pintar sekaligus bodoh. Manusia basajan dengan tampilan formula paradoks yang sempurna. Justru dengan tampilan seperti ini dirinya menjadi kabula-kabale, bisa masuk dalam berbagai lini dan segmen kehidupan.

Bagi si Kabayan hidup dijalani dengan penuh keriangan, nyaris tanpa beban. Kejujuran, kepolosan, kerendahhatian menjadi bagian integral dari kepribadiannya. Mungkin mirip dengan apa yang dikatakan Baginda Ali yang pernah adu jajaten dengan Kian Santang, sebagai sikap yang telah berhasil mengontrol dunia, tidak dikontrol dunia. Kepribadiannya unggul yang bisa menguasai benda dan tidak pernah dikuasai benda.

Bagaimana mereka yang dianggap memiliki otoritas seperti mertua, logikanya menjadi tidak ada apa-apanya di hadapan si Kabayan. "Sang Tuan" (baik pimpinan dalam konteks agama, budaya ataupun politik) dihancurkan dengan maksud agar kehidupan dikembalikan dalam fitrahnya yang egalitarian.

"Sang Tuan" yang dalam faktanya acapkali dikelilingi mitos yang sengaja disematkan para pedukungnya semisal sosok bersih, nasionalis, agamis, tidak korup, ternyata oleh si Kabayan mitos-mitos seperti ini digugurkan. Dan terbongkarlah wajah tanpa topeng, sisi gelap dari sang Tuan itu: mengeroposkan negara, porno, hipokrit, dan hikayat "katakan tidak pada korupsi" yang telah mengantarkannya pada tampuk empuk kekuasaan pun terbaca sudah sebagai ajakan untuk melakukan basilat secara berjamaah.

Galamedia
(Penulis ASEP SALAHUDIN adalah Wakil Rektor IAILM Tasikmalaya)**





Keranjang Belanja
0 item produk
Costumer Online

• jumiati



• Ansor


Sms/WA : 085299085829
PIN BB : 7948F486
Bank Pembayaran
No. Rek : 1300.010.668.xxx
an. Mochamad Ansor
No. Rek : 7750.817.xxx
an. Mochamad Ansor
Shoutbox