Mengarifi Kebijakan Pendidikan

Jumat, 08 Juni 2012 - 09:43:49 WIB
- Dibaca: 1837 kali

PENDIDIKAN adalah institusi yang sangat penting dalam menentukan perkembangan generasi yang akan menjadi pewaris negeri. Oleh karena itu, keberadaan kebijakan pendidikan yang humanis bagi siswa, yang penuh pengertian dan mampu mendewasakan kepribadian peserta didik sangat diperlukan. Kebijakan pendidikan yang selama ini kita ikuti, tentu saja secara sangat alami akan menentukan kondisi psikis, motivasi belajar, dan perkembangan siswa tak hanya dalam aspek kognitif-an sich, tapi juga menyentuh aspek kepribadian, moral, dan lain sebagainya. Kita bisa membayangkan, kebijakan pendidikan yang menggunakan UN sebagai barometer kelulusan dengan mengambil waktu sample beberapa hari saja untuk mengambil nilai kelulusan bukan sebuah metode yang komprehensif.

Pada gilirannya kemudian muncul kebijakan yang lebih humanis dari yang pertama, maka kemudian muncullah kombinasi antara nilai rapor dengan nilai ujian menjadi pertimbangan kelulusan. Siswa, dengan sifat sifat kemanusiaannya sesungguhnya sangat ingin untuk dipahami, baik harapan, kebutuhan dan segala perasaannya agar proses belajar dapat berlangsung nyaman. Kenyamanan yang diciptakan para pembuat kebijakan pendidikan sangat mempengaruhi minat siswa untuk belajar. Tak hanya itu, kebijakan pendidikan yang humanis akan mampu menumbuhkan mental siswa yang positif.

Kita sangat menyadari, bahwa kita memiliki kebutuhan untuk dihargai, diapresiasi, maka pendidikan semestinya memiliki kebijakan yang mengapresiasi kemampuan setiap siswa. Pada kebijakan ranking sekolah misalnya, kita paham bahwa ternyata dari mekanisme penilaian semacam itu meski kita telah mampu memetakan kemampuan kognitif siswa, namun setiap siswa menjadi memiliki persepsi mengenai dirinya. Rangking satu, memang memiliki persepsi yang positif mengenai dirinya, dan secara alami ini akan menjadi sumber kepercayaan diri. Pun sebaliknya, siswa dengan ranking terbanyak akan cenderung mempersepsikan kemampuan kognitifnya secara lebih negatif. Kecuali jika, guru sangat aktif mengapresiasi dan menumbuhkan semangat juga tidak membedakan perhatian antar murid.

Pada beberapa kasus yang muncul di dalam kelas, para pendidik banyak mengeluhkan bahwa mereka yang dikategorikan memiliki kesulitan belajar, pembelajar lamban, dan memiliki nilai minim dibanding teman-temannya akan menjadi "pembuat onar" dalam kelas. Maka, mulailah mereka mencitrakan diri sebagai siswa yang tidak mampu secara kognitif. Secara tidak sadar, jika memberi label "bodoh" melalui publikasi ranking terakhir, maka pendidikan telah memberi label "bodoh" kepada siswa, mungkin dengan cara yang sangat halus. Padahal, hal-hal semacam ini tentu sangat tidak baik bagi perkembangan mental siswa. Kini, sudah saatnya kebijakan pendidikan diatur dan didesain dalam rangka mengupayakan perkembangan mental anak yang positif.

Paparan kasus di atas barangkali hanyalah sedikit contoh kebijakan pendidikan yang mengedepankan kognitif-an sich, dan kurang mempertimbangkan kenyamanan perasaan siswa. Pun demikian, sangat sering kita dapati, kebijakan sekolah mengklasifikasikan anak berdasarkan tingkat kognitif sehingga anak anak yang terpilih di kelas akhir memiliki persepsi diri yang negatif mengenai dirinya.

Kebijakan pendidikan memang harus diarifi dan direnungkan secara kolektif. Jika tidak, maka kita hanya akan mengulang sejarah kelam, dan kurang memperdulikan aspek emosional siswa. Menciptakan kebijakan pendidikan yang membuat setiap siswa merasa dirinya berharga adalah sangat kita harapkan, karena hal itu dapat membentuk sikap positif pada anak, kepercayaan diri, serta motivasi mempelajari materi. Banyak siswa yang menjadi "siswa sulit diatur" kadang karena ia ingin "protes" sebab kebutuhan emosi dan kenyamanan perasaannya tidak dapat dipenuhi. Inilah yang mesti kita renungkan. Bagaimanapun, anak-anak yang menjadi siswa adalah makhluk unik yang bukan miniatur orang dewasa.

Kini, kita mesti memikirkan ulang, sesederhana apapun kebijakan pendidikan yang telah diterapkan. Bahkan, penulis sangat terkejut bahwa dalam suatu keadaaan, seorang guru "rela" merancang perlombaan hanya agar siswa yang tidak pernah unggul dalam pelajaran dapat menjadi "juara" dalam perlombaan yang sengaja dirancang. Menjaga perasaan siswa memang harus diupayakanm karena ia memiliki kebutuhan kenyamanan perasaan, hingga harus dilindungi dan dijaga, diapresiasi, dan disikapi secara positif. Pendidik, guru, pengajar, pembimbing atau apapun istilah bagi sang guru, ternyata mendidik memerlukan keterampilan berupa memahami perasaan dan kemampuan memotivasi siswa.

Akhirnya, kita memerlukan kebijakan pendidikan yang memotivasi siswa, bukan hanya menciptakan iklim kompetisi saja. Kita sangat perlu merancang, desain pendidikan yang memulihkan kepercayaan diri siswa. Karena pendidikan tak hanya semata-mata memberikan materi saja, tapi keteladanan sikap tulus mengapresiasi, memotivasi, hingga siswa akan merasakan kenyamanan dalam pendidikan hingga mereka mampu menumbuhkan sikap positif secara sederhana, dan pendidikan karakter sesungguhnya dimulai dari awalan, bagaimana cara pendidik menghargai perbedaan potensi dan bakat setiap siswa yang unik, variatif, dan tak selalu seragam dalam hal kognitif.
(Penulis, pemerhati pendidikan, praktisi psikologi perkembangan anak)**

Galamedia
senin, 07 mei 2012 01:53 WIB
Oleh : NURUL LATHIFFAH, S.Psi.
 





Keranjang Belanja
0 item produk
Costumer Online

• jumiati



• Ansor


Sms/WA : 085299085829
PIN BB : 7948F486
Bank Pembayaran
No. Rek : 1300.010.668.xxx
an. Mochamad Ansor
No. Rek : 7750.817.xxx
an. Mochamad Ansor
Shoutbox